Rabu, 06 Januari 2016

MY TOP 11 FAVORITE MOVIES IN 2015

Ada alasan mengapa saya lebih memilih menggunakan kata "film favorit" daripada kalimat "film terbaik". Karena jujur saja, saya sendiri tidak tahu kalau ditanya apa film terbaik. Sebab saya bukan kritikus atau pengamat film, hanya penikmat film. Dan sebagai penikmat film, jelas saya tahu film apa yang saya suka di 2015. Saya sendiri tidak lengkap menonton film di 2015, karena itu daftarnya hanya film-film mainstream semua :D

Berikut ini 11 film favorit saya sepanjang 2015 (tidak ada urutan khusus):



1. Kingsman: The Secret Service. Kingsman menjawab kejenuhan saya akan film-film bertema mata-mata yang belakangan terlalu tampil serius. Bagai oase di padang gurun, Kingsman memberikan nyaris 100% hiburan dari setiap unsur yang saya harapkan ada dalam sebuh film. Pemeran berwajah kece, cek. Adegan aksi brutal, cek. Fashion yang necis, cek. Dan yang terpenting FUN alias menyenangkan, karena Kingsman membawa unsur komedi yang sukses mengocok perut. Belum lagi villain mematikan yaitu Gazelle, yang mungkin akan saya nominasikan sebagai salah satu memorable antagonist. Satu lagi, Colin Firth juga membuktikan diri sebagai cowok yang makin tua makin berkharisma, hehehe. 


2. Mad Max: Fury Road. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa saat akan menonton Mad Max. Saya juga tidak mengenal franchise Mad Max sebelumnya dan tidak ada satu pun filmnya yang pernah saya tonton. Kesan pertama saat menonton film Mad Max adalah disturbing, karena filmnya bersetting dunia dystopia yang tidak biasa. Dan saat selesai menonton, kesan film Mad max masih melekat, mulai dari ceritanya, tokoh-tokohnya, setting dunia dystopianya, dll. Tentu saja waktu itu saya belum sadar kalau sebuah film bisa tetap melekat meski filmnya usai berarti film tersebut sukses mengambil hati penontonnya. Dan menonton film Mad Mad: Fury Road mengingatkan saya akan Life of Pi dan Avatar. Lho memang ada kemiripannya? Ingatan di sini maksud saya yaitu saya seolah merasakan suatu pengalaman cinematic baru saat menontonnya. Mad Max: Fury Road memang sebuah film laga, namun bukan film laga biasa macam The Fast & The Furious atau The Expendable. Setiap adegan laga dalam Mad Max terasa sangat nyata. Dan meski film laga biasanya maskulin dan macho, Mad Max tampil beda dengan pesan feministnya dan jagoan ceweknya mulai dari yang gahar seperti Imperator Furiosa, hingga yang feminin seperti The Wives dan para nenek-nenek yang memegang senjata. Yang pasti rata-rata penonton tidak akan kaget apabila Mad Max diikut sertakan dalam gelaran film Oscar 2016. At least untuk sutradara, George Miller deserve the nomination. 


3. Ant Man. Tahun 2015 memang film Superheroes tidaklah sebanyak tahun 2016. Namun beberapa film Superhero sudah sangat dikenal, katakan saja Avengers: Age of Ultron dan Fantastic Four. Namun siapa sangka Avengers tidaklah senikmat yang saya inginkan dan Fantastic Four, mmm sudahlah saya skip saja untuk Fantastic Four. Katakan saja, diantara film Superhero yang sudah lebih dulu populer, justru saya paling menikmati Ant Man. Berbeda dengan Avengers: Age of Ultron yang berusaha tampil kompleks (yang jatuhnya justru kurang fun sebagai tontonan), Ant Man justru dikemas secara ringan dan children friendly. Yang justru membuat filmnya menjadi sangat menyenangkan untuk ditonton. Terkadang Light is more.


4. Jurrasic World. Sebenarnya JW tidaklah istimewa secara plot dan cerita. Malah filmnya lebih seperti ulangan atau remake dari Jurassic Park dan itu pun masih belum bisa melampaui originalnya yang menurut saya paling masterpiece dari semua film Jurassic. Tapi JW berhasil memenuhi semua unsur dari sebuah film musim panas maupun film nostalgia, mulai dari adegan-adegan yang bikin tegang hingga karakter Chris Pratt yang kocak dan adorable. Terlebih lagi meme para zookeeper yang menirukan gaya Chris Pratt saat menjinakkan raptor sukses menjadi sebuah hiburan yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. 


5. Inside Out. Berbeda beberapa film big budget yang lebih banyak menjual adegan laga, saat berbicara film animasi Pixar, maka saya berbicara mengenai emosi. Inside Out juga merupakan suatu penanda bahwa Pixar telah bangkit kembali. Pasca kesuksesan Toy Story 3, film-film buatan Pixar seolah kehilanganya nyawanya, nyawa yang saya maksud adalah kemampuan Pixar dalam mengaduk-ngaduk emosi para penontonnya. Namun yang pasti saya sukses menitikkan air mata saat menonton Inside Out. Saya berani bertaruh Oscar 2016 untuk kategori animasi akan kembali ke Pixar melalui Inside Out


6. Spy. Tahun 2015 itu juga saya rasa tahun di mana bangkitnya film bergenre komedi mata-mata. Sama seperti Kingsman yang menggabungkan aksi spionase dan komedi, Spy juga begitu. Bedanya tokoh utama dalam Spy bukanlah cowok cakep atau cewek ramping berpakaian necis. Tokoh utama Spy justru wanita dengan badan montok yang selalu mengeluarkan kata-kata umpatan kasar. But, hey that's way we got the fun in there


7. The Martian. Jujur, awalnya saya sempat enggan menonton The Martian karena film-film bertema "survive in outer space" macam Gravity atau Interstellar itu bawaannya suka bikin depresi. Tapi karena banyak puja-puji mengenai The Martian, saya terbawa arus juga untuk menontonnya di bioskop. Dan ternyata saya tak menyesalinya. The Martian sukses menggabungkan unsur emosi dalam drama, fiksi ilmiah, humor dan petualangan di planet Mars dengan visualisasi yang jernih, pokoknya jauh dari kesan depresi. Dan yang saya suka, film ini memperlihatkan menjadi nerds/geek itu keren.


8. The Man from U.N.C.L.E. Setelah dimanjakan dengan Kingsman & Spy, ternyata film bergenre spy comedy masih belum selesai. Berbeda dengan Kingsman & Spy yang bersetting kontemporer The Man from U.N.C.L.E mempunyai setting yang mundur ke tahun 1960-an, jadi buat yang suka vintage style, film ini benar-benar memanjakan mata dengan style necis para tokohnya. Belum lagi chemistry bromance duo aktor rupawan Henry Cavill - Armie Hammer yang membuat penonton wanita seperti saya menjadi klepek-klepek. (Iya ini lebay).


9. The Intern. Satu-satunya film full drama yang masuk daftar list 11 film favorit saya. Rasanya menyenangkan dan menghangatkan hati saja menonton The Intern. The Intern juga mungkin film paling membumi yang saya tonton di 2015. Humornya pun bukan humor khas comic, tapi humor sehari-hari yang biasanya kita jumpai saat bercanda dengan teman. Segala sesuatunya dalam The Intern dikemas realistis, seperti problem ibu bekerja atau ibu rumah tangga dan juga masalah-masalah lainnya. Tambah lagi karakter Ben Whittaker yang diperankan Robert DeNiro sangat lovable. He is the kind of uncle you can always rely on.


10. Cinderella. Jangan pernah lupakan dongeng. Berbeda dengan beberapa adaptasi dongeng yang ceritanya suka ditulis ulang sehingga hasilnya menjadi sangat beda dengan aslinya (Maleficent, Pan). Cinderella yang rilis pada tahun 2015 ini tetap setia dengan dongeng aslinya. Kendati begitu cerita klasik Cinderella seolah tak pernah lekang dimakan zaman. Cinderella menghadirkan visualisasi cantik yang memuaskan pandangan mata, seperti kostum baju-baju ala putri yang cantik, setting istana yang megah dan juga soundtrack yang sangat ear catchy. Dan saya juga menjadi tahu nama pangeran dalam cerita Cinderella.


11. Star Wars: The Force Awakens. Saya rasa untuk yang ini saya tidak perlu tuliskan alasannya. Atau kalau mau baca review saya, klik sini

Honorable mention:

  • Goosebumps. Siapa sangka adaptasi Goosebumps dari buku ke layar kaca sangat menyenangkan saat ditonton.
  • Krampus. Meski bergenre horror komedi, namun Krampus membawa pesan natal yang sangat bagus untuk direnungkan (ini serius). 
  • Mockingjay part 2. Lebih ke alasan personal, karena saya suka bukunya dan juga penggemar karakter cowok baik hati macam Peeta Mellark. 
  • The Scorch Trials. Film YA dystopia ini bisa masuk jajaran sebagai film zombie yang sukses bikin deg-degan. 
  • The Good Dinosaur. Karena lagi-lagi Pixar sukses mengaduk-ngaduk emosi saya.
  • The Peanut Movie. Filmnya memang sangat anak-anak tapi menghangatkan hati.
  • Mission Impossible: Rogue Nation. Meski gagal menyaingi ketegangan & hiburan seperti di Ghost Protocol, namun tetap enak ditonton.
  • Furious 7. Film action yang menghangatkan hati. 
Expectation failed:

- Tomorrowland. Maaf Disney, tapi proyekmu yang ini gagal karena ceritanya tidak jelas mau dibawa kemana.
- Minions. Mungkin saya sudah terlalu tua untuk bisa menikmati Minions. 
- Avengers: Age of Ultron. Marvel terlihat mencoba terlalu keras membuat cerita yang agak serius dan rumit. Padahal Marvel itu sudah cocok dengan cerita Superhero yang colorful. 
- Insurgent. Bahkan sutradara Insurgent pun sepakat kalau cerita dalam seri Divergent itu maksa dan karenanya sebagian besar cerita dalam film banyak diubah.
- James Bond: Spectre. Mungkin sudah saatnya pemeran Bond diganti ke yang lebih muda. No offense I like Daniel Craig, but his time as Bond start to expire. And there is nothing new on the movie.
- Terminator: Genisys. Miscast, poor plot & script. 
- Pan. Dongeng Peter Pan-nya tidak semenghibur yang saya harapkan.

Best villain: Immortan Joe (Mad Max: Fury Road)
Most deadliest villain: Gazelle (Kingsman: The Secret Service)
The most charming spy: Ilsa Faust (Mission Impossible: Rogue Nation)
Best heroine: Imperator Furiosa (Mad Max: Fury Road)
The most lovable character: Ben Whittaker (The Intern)
The most adorable character: BB-8 (Star Wars: The Force Awakens)
The most scariest character: Slappy (Goosebumps)
Best hero: Owen Grady (Jurassic World) 
The funniest character: Susan Cooper (Spy)
Best bromance: Napoleon Solo - Illya Kuryakin (The Man from U.N.C.L.E)
Best spy: Harry Hart (Kingsman: The Secret Service)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar