Kamis, 01 Juni 2017

Tolong berhenti turut campur akan hidup anak-anakmu

Gue nulis postingan ini karena gue lagi kesel. Bukan hal bijaksana sebenarnya menulis blog saat lagi emosional. Tapi gue juga khawatir kalau gue udah lebih tenang, yang ada gue malah malas nulisnya.

Jadi gini, seperti yang kebanyakan anak-anak dari para generasi  baby boomers alami mengenai status single/nikah yang suka jadi momok. Tau sendirilah para ortu baby boomers sebagian besar cita-citanya cuma mau melihat anak-anaknya nikah atau menikahkan anak. 

Padahal nikah itu bukan perkara gampang seperti membalik telapak tangan. Apalagi jaman makin maju, tuntutan juga makin tinggi. Dan sekarang beberapa orang sudah sadar kalau menikah itu bukan lagi satu-satunya tujuan hidup. Tapi karena kita bicara soal baby boomers apalagi nyokap gue yang emang menolak berpikiran progresif, maka gue mau curhat.

Nyokap gue itu impian utama hidupnya adalah nikahin anak-anaknya dan otomatis ini bikin kebahagiaan dia bergantung sama anak-anaknya. Apalagi nyokap ngga punya teman dan ngga punya kegiatan. Sejak nikah sama bokap gue, hidupnya ibu rumah tangga full time. Dunianya hanya antara bokap gue dan anak-anak. 

Nyokap seperti kebanyakan ortu dalam budaya timur, beranggapan anak adalah investasi alih-alih titipan Tuhan. Ada anak itu supaya nanti saat dia sudah tua ada yang merawat. Sejujurnya gue nggak happy saat menulis ini, karena ada kesan gue nggak bersyukur atas orang tua gue.  Dan senjata nyokap, kalau anak-anaknya berontak atau marah adalah, "Elu anak durhaka." Dia terus memainkan kartu ini. 

Oke, sekarang balik ke pokok utama yang mau gue ceritakan. Nyokap tiap kali ada acara-acara keluarga (yang boleh terbilang jarang di keluarga besar gue) salah satu topik yang dia minta sama saudara atau kenalan saudara gue adalah, "Carin jodoh buat anak gue donk, si Lina."

Nah kadang dia minta ini sama saudara yang baru dikenal. (Ehem, gue merasa aneh saat nulis kalimat ini, "saudara tapi baru kenal"). Yah seperti yang gue bilang, kalau keluarga gue jarang ikut kegiatan-kegiatan di keluarga besar (baca keluarga jauh). Kadang ikut kalau memang diajak atau diundang. Pernah nyokap gue minta jodoh ke saudara jauh yang baru dikenal dan saudara jauh ini bilang, "Oke, kalau ada nanti dikenalin". Awalnya gue pikir cuma basa basi, secara baru kenal, emangnya tau selera gue, apalagi ini yang minta nyokap, bukan gue. 

Setelah beberapa lama, nih saudara jauh ini ada whatsapps gue dan kasih tau, gue tertarik ngga, sama orang Manado, duda anak dua tapi orangnya baik, trus dikasih fotonya juga. Well, "duda anak dua" aja udah langsung bikin gue bilang, " No, thank you." Dan itu dia masih ngotot bilang, "Tapi dia baik, Lin. Saya kenal langsung sama orangnya. Bla, bla dan terakhir ada kasih nasehat, "Soalnya di umur kamu yang udah ngga muda lagi, cowok yang baik kebanyakan sudah pada diambil. Lagian cowok yang single kebanyakan itu nggak baik." Bahasa gampangnya, "Udah tua, pilihan terbatas atau jangan pilih-pilih deh, inget umur. Ketemu yang baik aja udah sukur, duda anak dua juga gpp." (Itu yang terakhir, kalimat kesimpulan gue). 

Untungnya, dalam hal ini nyokap gue juga gak setuju sama duda. Apalagi yang sudah ada anak 2, masih kecil-kecil pula. Karena kalau kayak githu yang ada dalam pikiran gue, nikah supaya ada baby sitter untuk urusin anak plus ada tambahan urusan ranjang juga secara legal. Jujur sih, waktu nulis ini, gue jadi pengen buat blog dengan tema, "Nikah sama yang sudah berstatus duda/janda." Tapi ini akan gue bahas kapan-kapan. 

Dari dulu, gue merasa meminta jodoh sama orang yang baru dikenal (saudara sekali pun) bukan hal yang bijaksana. Mungkin kalau jaman dulu wajar, bahkan ada pengantin yang baru tau wajah istri/suaminya saat malam pertama. Tapi balik lagi, ini kan tentang gue yang hidup di era sekarang (2017 saat gue nulis ini postingan). Dan seandainya gue yang dibalik, dimintain tolong untuk menjodohkan orang lain, gue mungkin bakal tanya syarat-syarat yang dia mau. tapi gue pribadi nggak nyaman kalau harus menjodohkan orang yang gue kagak kenal. Karena biasanya kalau pun gue ditanya sama orang yang baru gue kenal, syarat-syarat apa yang gue mau untuk jodoh gue, gak akan gue jawab panjang kali lebar. Yang ada nanti kesannya gue ngelunjak :D

Apalagi, kalau gue kasih tau, ngga mau punya cowok yang mysoginist, mungkin ini prasyarat yang sangat susah, mengingat kacaunya budaya patriarki kita yang menempatkan cewek sebagai warga kelas 2. Eniwei, batal dengan saudara jauh yang baru dikenal. Kali ini ada saudara lain yang mau kenalin gue (beda orang yah). 

Jadi, 2 tahun yang lalu waktu temenin sepupu gue sangjit (seserahan), nyokap gue lagi-lagi meminta jodoh sama saudara. Kali ini minta sama keluarga istri dari sepupu gue. Dan kebetulan istri dari sepupu gue ini bilang dia ada Kokoh yang juga masih single. Gue sih udah pasrah (karena posisi gue serba salah, kalau nolak dibilang gak tau diri, kalau kasih kemungkinannya bakal gak enak kalau gak cocok) jadi gue kasih saja nomor HP gue.

Selama itu pula gak ada kabar. Tahu-tahu minggu lalu, istri sepupu gue tanya lagi, apa gue mau dikenalin sama Kokohnya. Jujur sih secara pribadi gue udah malas untuk menjajal relationship via perjodohan. Tapi yah, seperti yang gue bilang, gue dalam posisi serba salah. Nolak ntar dilabel ngelunjak, kalau oke tapi sering sesudahnya hubungan nyokap gue sama saudara yang lain awkward. 

Singkat cerita, gue ternyata ngga nyambung sama si cowok (kokohnya dari istri sepupu gue). Jadi yah, untuk temanan aja gak nyambung, boro-boro suka. Dan nyokap emang pada awalnya udah ngga setuju karena masih kenal alias saudara (iya, dia yang minta trus dia juga yang nyesel). 

Nah pada dasarnya, gue nggak pernah setuju nyokap minta-minta jodoh sama saudara yang baru dikenal. Karena meski saudara, di mata gue tetep jatuhnya orang asing, memang mereka tau kalau gue suka yang kayak gimana? Apa yang menurut mereka baik belum tentu baik untuk gue. 

Ortu gue bukan tipe ortu dengan level acceptance yang baik. BTW, sebelum pada mengira yang aneh-aneh-aneh, maksud gue dari acceptance itu bukan LGBT yah. Gue normal, namun gue bukan orang yang ngebet nikah, karena jujur, urus diri gue sendiri aja gue belum 100% becus dan gue suka kebebasan single yang cukup bertanggung jawab pada diri sendiri (dan mungkin ortu). 

Dan balik ke judul postingan gue, cuma pengingat kalau anak itu suatu waktu akan pergi, jangan mengharapkan kebahagiaan dari anak, Mereka individu terpisah bukan properti. Satu lagi, nyokap selalu protes akan sikap gue yang judes, yang bikin cowok-cowok takut sama gue. Mungkin cuma @travelpisces seorang yang gue follow di twitter yang berkata sifat judes gue itu baik. Padahal gue selalu merasa sifat judes gue ini adalah ekspresi kemarahan gue akan lingkungan sosial & keluarga yang banyak bersikap nggak adil sama gue. Pada dasarnya gue orangnya sangat gampang diajak kerjasama dan kompromi selama gak ada pihak yang dirugikan.